Menu

Kios Kosong Hantui Pasar Tradisional di Denpasar

  • Sabtu, 30 September 2023
  • 512x Dilihat

DENPASAR, - Keberadaan pasar tradisional masih menjadi
tujuan utama masyarakat untuk membeli kebutuhan pokok. Namun
demikian, bukan berarti pasar tradisional atau pasar rakyat ini tanpa
masalah. Belakangan mengemuka sejumlah persoalan yang dihadapi pengelola maupun
pedagang yang berjualan di pasar tradisional. Terutama saat terjadi pandemi
Covid-19 awal tahun 2020 dan berdampak hingga kini.

Keadaan ini bisa dilihat di dua pasar tradisional besar di Denpasar, yakni Pasar
Badung dan Pasar Kereneng. Kedua pasar ini memiliki persoalan banyaknya kios
yang kosong. Ini menunjukan aktivitaspasar tradisional pascapandemi Covid-19 belum benar-
benar pulih. Sejumlah pedagang yang berjualan di sejumlah pasar tradisional mengeluhkan sepinya pembeli.
Terutamna bagi pedagang yang memiliki los atau kios di lantai atas.

Di Pasar Badung, beberapa kios dan los di lantai 3 dan 4 banyak yang kosong ditinggal pedagang. Sepinya pembeli diakui salah seorang pedagang di pasar tersebut. Pedagang yang tidak mau disebutkan namanya tersebut mengaku jarang
dapat berjualan. Karena itu, pihaknya merasa rugi dengan biaya yang harus mereka
bayarkan untuk biaya sewa dan BOP atas kios yang mereka sewa.

Pedagang tersebut mengakui kondisi sepi pembeli sudah terjadi sejak mereka
pindah dari Pasar eks. Tiara Grosir di Jalan Cokroaminoto. Belum lagi, setelah itu
terjadi pandemi Covid-19, keadaan bertambah sepi. Hingga kini, belum juga pulih.

Kondisi serupa juga terjadi di Pasar Kereneng. Di pasar ini banyak kios yang kosong.
Terutama di lantai 2 yang tingkat keterisiannya cukup kecil. Di lantai ini hanya ada
20 persen yang terisi. Selebihnya masih kosong.

Sedangkan di Lantai 1 dan 3 jumlah yang terisi cukup banyak. Ada sekitar 95 persen
kios dan los di dua lantai tersebut yang sudah terisi pedagang. Artinya, tetap masih ada kios yang kosong sekitar 5 persen. "Ke depan kita akan minta pedagang di luar
untuk ke dalam," ujar Dirut Perumda Pasar Sewakadarma, I.B. Kompyang Wiranata,
belum lama ini.

Menyikapi kekosongan kios di sejumlah lantai tersebut, pihaknya menilai perlu ada
sinkronisasi antara Perumda Pasar dengan stakeholder terkait. Rencananya,
pedagang pelataran yang ada di area pasar juga akan dinaikan. Namun, bila
kebijakan ini dilakukan, masih tetap ada pedagang di luar pasar. "Ini kendalanya,"
ujarnya.

Sedangkan untuk di Pasar Badung, Kompyang Wiranata mengatakan, sebenarnya pedagang saat ini sudah diberikan keringanan biaya sewa. Semestinya mereka
bayar Rp300 ribu per bulan sesuai dengan kajian yang dilakukan Unud. Namun kini
pedagang hanya bayar Rp 175 ribu.

Ditambah biaya operasional pedagang (BOP) Rp 7.500 kali 30 hari menjadi total
yang harus dibayar pedagang adalah Rp400 ribu per bulan. "Mudah-mudahan
dengan selesainya renovasi Pasar Kumbasari akan berdampak ke Pasar Badung." harapnya.

Sebelumnya ia membenarkan adanya kios dan los kosong di Pasar Badung, Dia
mengungkapkan jumlahnya mencapai 50 persen dari jumlah pedagang di lantai 3
dan 4. Sedangkan lantai 2 dan 3 masih penuh terisi.

Dia menuturkan, banyak pedagang yang relokasi ke Pasar Lokitasari
pascakebakaran terdahulu belum kembali lagi ke Pasar Badung. "Jika pedagang
tersebut kembali suasana akan ramai lagi," katanya.

Demikian dikatakannya, kekosongan ini tidak hanya terjadi di Pasar Badung saja.
Beberapa pedagang di pasar lainnya, seperti Pasar Kumbasari, Pasar Satria dan
Pasar Kereneng juga ada yang telah mengembalikan tempat berjualan.