Menu

Inflasi Denpasar Tertinggi, Badung Deflasi

  • Sabtu, 03 Agustus 2024
  • 831x Dilihat

Inflasi Denpasar Tertinggi, Badung Deflasi

Denpasar-

Pada Juli 2024, Provinsi Bali secara year on year (yoy) tercatat mengalami inflasi setinggi 2,53 persen dengan Indeks Harga Konsumen sebesar 106,69, Inflasi tertinggi tercatat di Kota Denpasar sebesar 3,04 persen dan inflasi terendah tercatat di Kabupaten Tabanan sebesar 1,75 persendengan IHK sebesar 108,27.

Kepala BPS Bali Endang Retno Sri Subiyandini, Kamis(1/8) mengatakan, perkembangan harga berbagai komoditas pada Juli 2024 di Provinsi Bali yang diwakili Kota Denpasar, Singaraja, dan Kabupaten Tabanan secara tahunan menunjukkan adanya kenaikan.

Sementara itu, Kabupaten Badung tercatat mengalami deflasi. Deflasi di wilayah Badung diperkirakan dipengaruhi penurunan sejumlah komoditas, terutama komoditas tanaman hortikultura. Dari pencatatan BPS, komoditas yang mengalami penurunan tersebut, antara lain, tomat dan bawang merah.

Namun secara umum, wilayah Provinsi Bali mengalami inflasi pada Juli 2024 secara tahunan. Inflasi di Bali lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan Indonesia pada Juli 2024, yang tercatat sebesar 2,13 persen yoy. Adapun besaran inflasi di Bali secara bulanan (month to month/mtm) tercatat sebesar 0,10 persen.

Inflasi tahunan (y-on-y) terjadi karena naiknya harga komoditas-komoditas amatan yang ditunjukkan oleh naiknya IHK pada sepuluh kelompok pengeluaran, yaitu, kelompok makanan, minuman dan tembakau naik sebesar 4,29 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,18 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,28 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,30 persen, kelompok kesehatan sebesar 1,74 persen, kelompok transportasi sebesar 2,10 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,14 persen, kelompok pendidikan sebesar 2,35 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 4,63 persen serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 2,01 persen. 

Cabai Rawit Picu Kenaikan Inflasi

KEPALA BPS Bali Endang Retno Sri Subiyandini, Kamis (1/8) mengatakan, inflasi di Bali terjadi karena naiknya harga komoditas-komoditas amatan. Hampir semua komoditas mengalami kenaikan harga. Ada satu kelompok komoditas tercatat mengalami penurunan indeks, yaitu kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan turun sebesar 0,03 persen.

Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi y-on-y pada bulan Juli 2024 antara lain beras, cabai rawit, Sigaret Kretek Mesin (SKM), tarif parkir, minyak goreng, nasi dengan lauk, biaya Pendidikan akademi/perguruan tinggi, pisang, Sigaret Putih Mesin (SPM), kopi bubuk, air kemasan, emas perhiasan, gula pasir, kue basah, pembalut wanita, kue kering berminyak, biaya pendidikan taman kanak kanak, cabai merah, Sigaret Kretek Tangan (SKT), dan mobil.

 

Sementara itu, komoditas yang menahan laju inflasi dengan memberikan sumbangan negatif, antara lain bawang merah, daging ayam ras, bawang putih, tomat, ikan tongkol/ ikan ambu-ambu, canang sari, kacang panjang, buncis, tongkol diawetkan, sawi hijau, vitamin, sabun cair/cuci piring, ketimun, telepon seluler, sabun mandi, sabun mandi cair, buah naga, mie kering instant, bahan bakar rumah tangga, dan pakaian bayi.

Secara bulanan (month to month I m-t-m), Provinsi Bali tercatat mengalami inflasi sebesar 0,10 persen. Sementara secara year to date (y-to-d), tercatat inflasi sebesar 1,22 persen.